Guru yang Pertama Harus Berubah Bukanlah Muridku
Motivasi 03 May 2026

Guru yang Pertama Harus Berubah Bukanlah Muridku

Sepuluh tahun lalu, seorang kepala sekolah di Kalimantan Selatan hidup dalam malu. Anak kandungnya sendiri bermasalah: nilai buruk, sikac buruk, pergaulan buruk. Ia sudah memanggil psikiater, tokoh masyarakat, guru-guru terbaik. Semua gagal.

Hingga suatu malam, ia bertanya pada dirinya sendiri: "Mungkinkah karena saya yang selama ini tidak benar?"

Pertanyaan itu mengubah segalanya. Ia sadar, selama ini ia sering datang terlambat, bersikap tidak adil pada guru, dan lepas tanggung jawab. Maka ia pun berubah. Datang on time. Berbuat baik pada semua guru. Bertanggung jawab. Alhamdulillah, anaknya berangsur pulih, bahkan akhirnya membawa prestasi untuk sekolah.

Kisah ini menghentak saya sebagai guru muda.

Selama ini, ketika ada murid bermasalah, refleksi saya selalu ke luar: kurikulumnya salah, keluarganya broken home, temannya buruk. Saya tidak pernah bertanya: "Mungkin karena saya yang belum benar?"

Kisah kepala sekolah itu mengajarkan saya pelajaran paling mahal: guru yang pertama harus berubah bukanlah muridku, tapi diriku sendiri. Seorang anak bisa "sakit" karena lingkungannya—termasuk gurunya—"sakit". Perubahan sejati tidak dimulai dari kebijakan atau hukuman, tapi dari keteladanan.

Kini, sebelum marah pada murid yang terlambat, saya cermin dulu: apakah saya sudah on time? Sebelum kesal pada murid yang malas, saya evaluasi: apakah saya sudah mengajar dengan penuh tanggung jawab?

Saya bukan lagi guru yang sibuk membenahi orang lain. Saya adalah guru yang sibuk membenahi diri. Karena saya percaya: murid tidak akan pernah berubah lebih dulu dari gurunya.


Komentar (0)
Tulis Komentar
Komentar akan tampil setelah disetujui admin.
Foto Profil
Erwin.R,S.Pd

Guru Informatika

Sedang belajar ngetik sejak 2007. Terus belajar dan berbagi.